Hasil Riset Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu 2014 di Kabupaten Tegal

 

 

 Foto: Kegiatan Sosialisasi Pemilu di Sekretariat Difabel Kabupaten Tegal

Berakhirnya penyelenggaraan Pemilu Tahun 2014, baik Pemilu Presiden maupun Pemilu Legislatif secara nasional masih menyisakan beberapa persoalan bagi pihak penyelenggara Pemilu salah satunya adalah persoalan partisipasi masyarakat. Secara nasional partisipasi pemilih sebesar 70%, dari kuantitas memang menurun tetapi secara kualitas mengalami peningkatan, hal tersebut dapat dilihat dari partisipasi masyarakat dalam mengawal pelaksanaan Pemilu. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu terpetakan dalam 5(lima) persoalan antara lain soal money politics, perilaku memilih,  kehadiran dan ketidakhadiran pemilih di TPS, serta tingkat melek politik warga. Oleh karena itu sebagai bahan evaluasi KPU melaksanakan riset tentang partisipasi masyarakat dalam Pemilu, KPU menilai program riset menjadi aktivitas yang tak terhindarkan dalam manajemen Pemilu serta hasil riset tersebut nantinya akan menjadi landasan dalam mencari solusi dari akar permasalahan yang terjadi dan tentunya

Sesuai dengan surat KPU RI No 155/KPU/IV/2015 tentang Pedoman Riset Partisipasi dalam Pemilu, KPU Kabupaten Tegal telah bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat  Sekolah Tinggi Agama Islam Bakti Negara (STAIBN) Tegal untuk melakukan kajian Analisis Penyebab Masyarakat Tidak Menggunakan Hak Pilihnya Dalam  Pemilu Legislatif Tahun 2014 di Kabupaten Tegal yang dilaksanakan tanggal 2 Mei sd 26 Juni 2015 di wilayah 3(tiga) kecamatan berdasarkan tingkat partisipasi pemilihnya yaitu di Lebaksiu, Slawi dan Adiwerna.

Berdasarkan laporan hasil penelitian tersebut, kondisi partisipasi pemilih di Kabupaten Tegal pada Pemilu Tahun 2014 angka Golput masih terbilang tinggi walaupun mengalami penurunan dari Pemilu Tahun 2009, namun tidak signifikan. Jumlah Pemilih yang menggunakan hak pilihnya di TPS 751.036 ( 63,7%) , sedangkan jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya atau Golput 427.076 dari jumlah total Daftar Pemilih Tetap 1.178.172, artinya angka Golput mencapai 36,3% .

Penyebab pemilih di wilayah Kabupaten Tegal tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu Legislatif Tahun 2014 adalah :

1) 83% pemilih bekerja diluar kota atau merantau

2) 8,5% pemilih sibuk dengan pekerjaan

3) 2,1% pemilih lupa

4) 2,1% pemilih tidak mempunyai pilihan( tidak ada partai atau caleg yang dianggap pantas)

5) 2,1% pemilih sakit

6) 2,1% pemilih sedang menempuh pendidikan diluar kota

Sebanyak 98% pemilih di wilayah Kabupaten Tegal yang tidak menggunakan hak pilihnya masuk dalam golput teknis, sedangkan 2% masuk kategori golput politis.

Dari kesimpulan tersebut, disarankan perlunya kajian lebih dalam tentang sistem pemungutan suara yang efektif sehingga semua pemilih dapat menggunakan hak pilihnya tanpa harus datang ke TPS dimana Pemilih terdaftar sebagai DPT, perlunya penyelenggaraan pendidikan pemilih yang lebih intensif, perlunya peningkatan sosialisasi yang lebih intensif, perlu peningkatan kualitas partai maupun calon legislatif peserta pemilu.

Ke depan tantangan akan lebih besar dalam sebuah penyelenggaraan Pemilu, dengan adanya penelitian ini diharapkan penyelenggaraan Pemilu akan lebih berkualitas, karena Pemilu adalah wujud   penguatan demokrasi yang bertujuan untuk menciptakan  tata pemerintahan yang efektif dan efisien. Sukses Pemilu bukan hanya menjadi tanggung jawab KPU dan  Panwaslu tetapi juga partai politik, peran media serta seluruh masyarakat Indonesia.(TA)

 http://kpud-tegalkab.go.id/wp-content/uploads/2015/08/Resume-Riset-Parmas-KPU-Kab-Tegal1.pdf